Love Is Not Fair
"Cinta memang tidak harus
saling memiliki, tapi cinta harus bisa dipahami." Special fic for My
Little Sister. Warning! Only for NaruHina Lovers! Don't Like Don't Read!
|
"Cinta
itu rumit dan gampang berubah haluan. Tapi, sekali mendapat tempatnya, cinta
itu tidak akan pernah mau terlepas."
.
.
.
~Love
Is Not Fair~
By:
Yuiki Nagi-chan
Dislcaimer:
Masashi Kishimoto
Warning:
Canon, miss typo, typo's, EYD kurang beraturan, etc...
Don't
Like Don't Read!
Special
fic for my little sister yang sangat mencintai pairing NaruHina...
A/N:
Menunggu itu menyakitkan? Banget! Sebenarnya fic ini Nagi-chan buat spesial
untuk adik Nagi-chan tercinta dan tentunya untuk semua NaruHina Lovers. Selain
itu, fic ini juga merupakan luapan kekecewaan Nagi-chan sama Hinata yang masih
terus menunggu, tapi nggak pernah dibalas sama Naruto, juga kesedihan Nagi-chan
tiap lihat cerita dimana Hinata hanya dijadiin pelarian Naruto dari Sakura...
Karena
itu, Nagi-chan buat fic ini. Selain untuk meramaikan fic dengan pair NaruHina,
Nagi-chan juga mau membuat cerita dimana Naruto mengerti arti cinta Hinata.
.
.
.
~Cinta
memang tidak harus memiliki. Tapi cinta harus bisa dipahami~
.
.
.
.
.
"Anak
kandung ayah hanya kamu dan Hanabi. Jika kalian menikah, tentu marga kalian
akan berubah mengikuti marga suami kalian. Karena itu..." Hiashi menahan
sebentar ucapannya seraya menutup kedua matanya lalu kembali menampakkan kedua
mata lavender miliknya dengan sorot tegas dan berwibawa. "Kau harus
menikah dengan Neji, agar nama keluarga Hyuuga tidak terputus digaris keturunan
Ayah."
Hinata
hanya diam sambil menundukkan wajahnya. Poninya membuat Hiashi tidak bisa
melihat, bagaimana raut wajah putri sulungnya sekarang.
"Kau
mengerti, Hinata?"
"Aku
mengerti, Ayah." jawab Hinata pelan.
Semula,
Hiashi mengira Hinata akan terdiam cukup lama dan menjawabnya dengan
terbata-bata. Tapi, perkiraannya meleset sangat jauh. "Baiklah, kau boleh
keluar."
Hinata
hanya berdiri lalu membungkukkan badannya tanda hormat sebagai sahutan
kata-kata Hiashi.
.
.
.
Berita
tentang rencana pernikahan antara Neji, golongan Bunke dari keluarga Hyuuga
dengan Hinata, golongan Souke dari keluarga Hyuuga tersebar dengan sangat
cepat. Seluruh warga Konoha menyambut baik hal ini, termasuk para Rokie 12 yang
langsung mengucapkan selamat pada Hinata dan Neji. Kecuali, dua sahabat baik
Hinata, yang juga rekannya di tim 8.
"Aku
benar-benar muak, Hinata!" teriak Kiba seraya meninju batang pohon yang
berada disampingnya dengan kesal. "Apa kau tidak lelah dijadikan boneka
oleh ayahmu sendiri?"
"Kau
harus mendengarkan kata hatimu," sahut Shino.
Hinata
mencoba tersenyum kearah Kiba dan Shino. "T-tidak apa-apa. Melihat ayahku
senang, sudah merupakan kebahagiaan tersendiri untukku."
'GUKKK!'
"Lihat?
Akamaru saja tidak setuju dengan keputusan itu!" seru Kiba sambil menunjuk
Akamaru yang terus menyalak.
"M-maafkan
aku Kiba. Tapi ini sudah merupakan kewajibanku sebagai putri sulungnya. Bagiku,
hidupku ini hanya untuk menuruti perintahnya. Jadi tidak mungkin aku
menolaknya."
"Jika
itu memang keputusanmu, jalanilah! Yang pasti, kami tidak akan pernah mau
datang ke pesta pernikahanmu!" seru Kiba seraya menunggangi Akamaru, pergi
meninggalkan Hinata dan Shino.
Shino
hanya mengangguk sebagai tanda setuju dengan ucapan Kiba, lalu ikut menghilang
bersama kepulan asap.
"M-maafkan
aku, teman-teman."
.
.
.
Semua
anggota Rokie 12 minus Kiba dan Shino sudah berkumpul di kedai Yakiniku
langganan Chouji dan Shikamaru untuk merayakan rencana pernikahan Neji dan
Hinata yang katanya akan dilangsungkan seminggu lagi. Semua terlihat tersenyum
bahagia, kecuali Hinata yang menunduk, Neji yang memang irit ekspresi, dan Sai
yang sibuk mencoret-coret di buku sketsa miliknya.
"Selamat,
ya! Kalian mendahului kami semua!" seru Ino dengan riang. Sebelah
tangannya sudah menggandeng lengan Sai dengan erat.
"Ya,
Ino-pig. Dan mungkin setelah Hinata kau yang akan pergi ke pelaminan,"
goda Sakura yang dibalas Ino dengan cengiran khas-nya.
Setelah
perbincangan yang seru, satu bersatu anggota Rokie 12 mengucapkan selamat pada
Hinata dan Neji dengan wajah berbinar-binar bahagia.
"Selamat
Hinata, Neji! Aku dan Lee pasti akan datang ke pesta kalian!" seru Tenten
dengan gembira.
"Selamat,
ya! Aku, Naruto, dan Sai pasti akan datang!" ucap Sakura sambil tersenyum
senang.
"Ya,
jangan lupakan kami juga!" seru Ino seraya merangkul Shikamaru dan Chouji.
"I-iya,
terima kasih, semuanya!" ucap Hinata, tulus.
"Hinata,
sebaiknya kita segera kembali!" ucap Neji seraya berdiri meninggalkan
kedai. Hinata langsung mengangguk dan berpamitan pada semuanya.
.
.
.
"Kemana
rekan-rekanmu itu, Hinata?" tanya Neji, membuka percakapan.
"M-mereka
ada misi, kak. Mungkin besok baru kembali ke desa," jawab Hinata sambil
kembali memainkan kedua jari telunjuknya.
"Hmm,"
sahut Neji. Keadaan pun kembali sunyi selama perjalan mereka menuju Mansion
Hyuuga.
.
.
.
"N-Naruto,"
panggil Sakura dengan wajah yang memerah. Naruto yang berjalan disampingnya
hanya bisa menaikkan sebelah alisnya dan menatap Sakura dengan bingung.
"Ada
apa, Sakura-chan?"
"Mmm,
itu...saat aku mengungkapkan perasaanku, bagaimana jawabanmu?" tanya Sakura
yang mulai memainkan helaian rambut soft pink miliknya.
"Bukannya
saat itu kau hanya membohongiku?" tanya Naruto tidak mengerti. "Jadi,
untuk apa minta jawabannya?"
Dahi
Sakura berkedut-kedut menahan emosi. "Baka! Saat itu aku benar-benar
serius, tahu!" teriak Sakura dengan wajah merah padam. "Seharusnya
kau menghargai pernyataan cinta dari seorang gadis! Apalagi aku yang merupakan
gadis pertama yang mau menembakmu!"
Naruto
terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan Sakura. Kemudian mulai
tertawa pelan. "Kau tidak perlu membohongi dirimu, Sakura-chan."
"Tentu
tidak, Baka!" seru Sakura, marah. "Aku menyukaimu! Perasaan seorang
gadis memang gampang berubah, kan? Aku tidak mungkin masih mencintai Sasuke
yang merupakan pengkhianat desa. Aku lebih memilihmu. Kau sudah menjadi kuat
dan merupakan pahlawan desa. Aku juga sadar kalau kau yang selalu bersamaku.
Jadi, apa salahnya aku mencintaimu?"
Naruto
kembali tertawa kecil. "Jadi, kalau aku bukan pahlawan desa, kau tidak
akan mencintaiku?"
"I-itu..."
"Kau
tidak perlu memaksakan diri, Sakura-chan. Lagipula..." Naruto memejamkan
matanya dan membukanya kembali seraya menampilkan cengiran khasnya. "Orang
pertama yang menembakku bukan kamu, Sakura-chan."
Sakura
terlihat bingung sebelum menatap kedua mata Naruto dengan penasaran.
"Siapa?"
"Hinata."
Angin
malam berhembus kencang, menerbangkan helaian rambut pirang jabrik milik Naruto
dan soft pink milik Sakura.
"Lagipula,
dia sudah mencintaiku lebih lama dari saat kau mencintai Sasuke. Dia
mencintaiku..." Naruto kembali menutup matanya. "Sejak masih berumur
empat tahun. Tepat saat aku menolongnya dari ketiga bocah nakal yang
mengganggunya. Jika aku boleh jujur, aku saja tidak bisa mengingat kejadian
itu. Tapi, dia... dia sangat mengingatnya. Bahkan sampai rela menungguku selama
13 tahun."
Angin
malam kembali menerbangkan helaian rambut Sakura dan Naruto. Seraya
menggerakkan awan yang menutupi bulan purnama dibulan april.
"Dia
menyukaiku apa adanya. Disaat semua menjauhi dan membenciku, dia malah
mencintaiku secara diam-diam. Betapa bodohnya aku!" Naruto kembali
memasang cengiran khasnya. "Sudah malam, Sakura-chan. Tidak baik gadis
sepertimu berada diluar malam-malam begini. Sebaiknya kau segera masuk."
Sakura
menolehkan kepalanya kesebelah kanan, tempat bangunan bercat cokelat berdiri
dengan kokoh. Benar, ia sudah sampai di depan rumahnya. "Ya, terima kasih,
Naruto."
Naruto
hanya tersenyum lebar sebagai balasan ucapan terima kasih Sakura. "Selamat
malam!" dan Naruto menghilang diantara atap-atap rumah penduduk Konoha,
dibawah sinar rembulan yang membuatnya nampak sangat bersinar dimata Sakura.
"Hatimu berubah haluan, Naruto. Dan sekarang aku benar-benar merasa bodoh
telah menyia-nyiakanmu selama sepuluh tahun. Dan yang paling membuatku merasa
bodoh, aku tidak tahu kalau Hinata sudah menembakmu lebih dulu daripada
aku."
.
.
.
Kushina
menutup kedua matanya sambil melanjutkan cerita tentang awal kisah cintanya
bersama Minato. "Dia itu lelaki yang bodoh. Menyukaiku selama
bertahun-tahun tapi baru menembakku saat keadaan terdesak. Padahal dia tahu
kalau aku sangat mencintai Fugaku." Kushina tertawa pelan dan kembali
melanjutkan ceritanya. "Awalnya aku mengira ia anak bodoh yang pendiam.
Tapi, setelah sekelompok dengannya aku menyadari kalau ia orang yang sangat
menyenangkan. Ia humoris dan bijaksana. Pandai berbicara saat keadaan kritis,
tapi berhati lembut dan penyabar. Dan yang paling membuatku terkesan, ia juga
orang pertama yang mau menembakku. Disaat semua orang takut dengan statusku
sebagai Jincuriki, dia malah tertawa dan mengatakan kalau dia akan menikahiku
walaupun ada Kyuubi di dalam tubuhku. Benar-benar orang yang bodoh!"
Naruto
terbangun dari mimpi singkatnya. Memposisikan diri menjadi duduk, Naruto
termenung dan kembali mengingat mimpinya itu. Ibunya bukan mirip dengan Sakura,
tapi sangat mirip dengannya. Mudah meledak-ledak, jahil, bodoh, dan merupakan
jincuriki sebelumnya. Sedangkan ayahnya sangat mirip dengan Hinata. Naruto
kembali tersenyum. Dalam sehari ini sudah lima kali bayangan Hinata melintas dikepalanya.
Apa besok dan besoknya lagi, bayangan Hinata akan lebih sering muncul dalam
pikirannya? Apa ini berarti Naruto masih memiliki kesempatan?
.
.
.
"Kimono
berwarna biru cerah ini pasti sangat cocok untuk Anda, Hyuuga-san," tawar
salah satu pegawai bernama Hikaru dengan riang. Hinata hanya tersenyum maklum
seraya mengangkat kedua tangannya.
"T-tiduk
usah, Hikaru-san. Saya rasa warnanya terlalu biasa."
"Kalau
begitu yang ini saja! Ini kimono terbaik dan terakhir yang bisa saya
tawarkan," ucap Hikaru seraya memperlihatkan kimono berwarna lavender
dengan corak bunga Sakura yang sedang berguguran.
"I-itu
sangat cantik. Tapi maaf, Hikaru-san. Kimono itu tidak sesuai dengan selera
saya. Apa ada kimono yang lain?" tanya Hinata.
Hikaru
menggelengkan kepalanya. "Maaf Hyuuga-san. Itu kimono terakhir kami."
Hinata
menunduk lesu. Ini toko kimono terakhir yang masih tersisa di Konoha. Yang
lainnya telah Hinata masuki, tapi tidak ada satupun kimono seperti yang Hinata
harapkan.
"Ehhh,
kimono itu," gumam Hinata saat melihat sebuah kimono berwarna merah marun
dengan lambang pusaran berwarna merah yang di pajang di deretan paling belakang
kimono lainnya. Lambang itu sangat familiar. Tapi dimana Hinata pernah
melihatnya?
"Ah,
kimono ini. Ini kimono yang dipesan seseorang sekitar tujuh belas tahun yang
lalu, tapi sampai sekarang tidak pernah diambil juga."
"S-saya
ambil, Hikaru-san."
"Ehhh?
Hyuuga-san serius?"
Hinata
mengangguk mantap. "S-saya akan mengambilnya, berapapun harganya! Dan
tolong Hikaru-san, siapkan pasangan kimono ini. Saya akan menggunakannya untuk
pernikahan saya nanti."
"Baik,
Hyuuga-san!"
.
.
.
"Hinata!"
Hinata
menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Naruto mengejarnya seraya
tersenyum lebar kearahnya. "N-Naruto-kun? Ada apa?"
"Tidak
apa-apa. Aku hanya ingin tahu, apa yang kau lakukan di toko kimono itu,"
sahut Naruto sambil mengangkat kedua tangannya dan menjadikannya bantalan
kepalanya.
"A-aku
mencari kimono untuk pernikahanku nanti."
"Oh
ya? Warna apa kimononya?"
Hinata
bersemu merah lalu mulai mengeluarkan kimononya yang berwarna merah marun.
"Kimono
ini sangat indah!" puji Naruto.
Hinata
mengangguk mengiyakan. "Hmm, k-kimono ini benar-benar indah. B-butuh waktu
seharian untuk mencari kimono seperti ini."
"Warnanya
bertolak belakang denganmu. Warna kimono ini merah marun dengan kesan dewasa
yang kental. Berbeda sekali dengan warnamu yang biasanya biru atau ungu.
Perpaduannya pasti akan membuatmu lebih manis."
Hinata
merona merah. "T-terima kasih, Naruto-kun."
"Oh,
ya, kukira Neji ikut membantumu, Hinata."
"K-kak
Neji sedang sibuk. Ia ikut rapat dengan para tetua Hyuuga lainnya mengenai
penyatuan keluarga Hyuuga antara golongan Souke dan Bunke."
"Oh,
begitu."
"Hmm."
"Hinata,
mau kuantar sampai Mansion Hyuuga?"
Hinata
menganggukan kepala sambil tersenyum senang. "T-terima kasih,
Naruto-kun."
.
.
.
"Aku
sangat setuju dengan usulmu, Kakashi," ucap Tsunade seraya tersenyum
lebar.
"Terima
kasih, Tsunade-sama."
"Tidak
bisa! Coba kalian pikirkan lagi. Anak lelaki berumur tujuh belas tahun jadi
Hokage? Ini benar-benar ide yang gila!" seru Utatane, salah satu tetua
Konoha dengan kesal. "Kalian pikir apa ini Konoha? Sekedar kota kecil yang
diawasi seorang bocah?"
BRAKKK!
"Diam
kau nenek tua!" seru Tsunade dengan emosi. "Dia bukan sekedar bocah!
Dia seorang remaja! Keberaniannya saat Invasi Pein dua tahun yang lalu, apa
belum cukup membuatmu menyetujui hal ini, hah?"
"Kazekage
kelima Sunagakure dilantik saat berumur enam belas tahun, kan? Jadi, kenapa
Naruto tidak bisa?" tanya Kakashi dengan nada santai. "Konoha bisa
lebih rusak jika kalian yang menanganinya."
"Dan
tanpa dia, Konoha tidak akan pernah ada!" timpal Tsunade. "Jadi,
siapa yang setuju denganku?"
"Kami
semua setuju, Tsunade-sama!"
.
.
.
Malam
penuh bintang yang menerangi langit malam Konoha, membuat bulan sabit kali ini
tampak lebih indah dengan kilauan cahayanya. Angin malam berhembus masuk,
membuat Hinata semakin terjaga dari rasa kantuknya.
Esok
semuanya akan selesai. Pernikahannya akan segera berlangsung besok pagi. Mimpi
untuk bersama Naruto, akhirnya berakhir juga. Hinata merutuki dirinya sendiri.
Seharusnya ia tahu, Naruto tidak akan pernah bisa berpaling padanya. Tidak akan
pernah.
Air
mata kembali mengaliri pipi putih Hinata. Sambil terisak Hinata terus
menyalahkan dirinya yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Jika tahu
hidupnya akan seperti ini, Hinata tidak akan pernah mau hidup di keluarga ini,
di desa ini, di dunia ini.
Hinata
berjalan menuju cermin dimeja riasnya, melihat pantulan dirinya yang
mengenakkan piyama dan bermata sembab. Memang benar, ia tidak se-cantik Ino
maupun Sakura. Ia juga tidak se-kuat Temari maupun Tenten. Ia hanyalah seorang
Hinata yang lemah.
Hinata
menggigit bibirnya, mencoba menahan isak tangis yang ia takutkan terdengar oleh
adiknya yang tidur dikamar sebelah. Ia tidak ingin kembali dicap sebagai orang
yang cengeng. Sudah cukup ayahnya menghinanya dengan sebutan lemah, sudah
cukup.
Menangis
juga tidak ada gunanya, sama sekali tidak bisa merubah takdir yang telah
digariskan.
Hinata
kembali ke kasur-nya dan mulai meringkuk di dalam selimut tebal.
Cinta
tidak harus memiliki, tapi setidaknya cintanya pada Naruto tetap bisa ia simpan
didalam hatinya.
.
.
.
Naruto
meletakkan sebuket lili putih di depan sebuah makam yang diketahui penduduk
sekitar sebagai makam Hokage ke-empat.
Naruto
berjongkok di depan makam tersebut sambil tersenyum lebar. "Akhirnya aku
tahu kalau kau adalah ayahku. Benar-benar tidak bisa kupercaya. Bahkan penduduk
desa tidak ada yang tahu kalau aku ini adalah putramu," tanpa sadar air
mata mengalir di kedua pipi Naruto. "Aku senang, walaupun singkat, aku
bisa bertemu kau dan ibu. Aku bahkan sudah tahu, bagaimana rupa dirimu dan ibu.
Aku... sangat senang," Naruto kembali menghapus air matanya. "Oh ya,
aku kemari ingin meminta restumu. Kau tahu gadis itu, kan? Gadis yang pernah
kau lihat dari dalam diriku ini. Gadis yang menolongku dan menyatakan cintanya
padaku, menurutmu dia bagaimana? Apa cocok menjadi menantumu, ayah?"
Naruto kembali tertawa. "Tapi, sayang. Hari ini dia akan segera menikah dengan
lelaki yang bukan diriku. Aku jadi menyesal, nih!" Naruto langsung nyengir
lebar. "Tapi aku tidak mau menyerah semudah itu. Kau tahu bagaimana
sifatku kan? Hehehe...akan ku buat kau bangga dengan kelakuan bodoh anakmu ini.
Karena pestanya akan segera dimulai, aku mohon pamit, ayah. Salamku untuk ibu
dan pertapa genit itu. Besok aku kan kembali bersama gadis itu..." Naruto
melebarkan cengirannya. "...Sebagai suami istri."
Naruto
menatap sebentar makam Hokage ke-empat sebelum melesat pergi dengan cengiran
lebar yang tidak bisa lepas dari wajahnya.
.
.
.
Hinata
menatap kembali pantulan dirinya di cermin. Mencoba mencari kelainan pada
kimono merahnya. Tidak lama kemudian kembali tersenyum tipis sambil memutar
sedikit tubuhnya.
Ternyata
Naruto benar, ia tampak cantik dengan kimono ini.
Blushhh!
"Ah,
Hinata-sama! Sepertinya Anda benar-benar bahagia hari ini. Sampai-sampai merona
merah begitu!" goda salah satu pelayan Hinata yang sedang merapikan hiasan
rambutnya.
Hinata
yang mendengarnya kembali sedih. 'Benar juga. Aku kan mau menikah dengan Kak
Neji, bukan dengan Naruto-kun.'
Si
pelayan langsung panik melihat perubahan raut wajah Hinata. "Lho, saya
salah bicara, ya, Hinata-sama?"
Hinata
tersenyum lembut. "T-tidak, kok."
"Ah,
syukurlah."
"Hinata-sama!"
panggil seorang pelayan yang tiba-tiba sudah membuka pintu dengan panik.
"Acaranya akan segera dimulai!"
"B-baiklah."
.
.
.
Hinata
mulai berjalan dengan anggun kearah Neji yang telah menunggu. Para tamu
terlihat kagum, ada yang memuji Hinata dan Neji, ada yang berdecak kagum, ada
pula yang hanya tersenyum senang. Tapi, Kurenai yang memandang Hinata malah
menahan tangis kesedihan, karena ia yang sudah menganggap Hinata sebagai
putrinya sangat menyadari kalau Hinata sama sekali tidak bahagia.
Pesta
pernikahan ini memang sudah Hiashi atur menjadi dua acara berbeda.
Pada
acara pertama, seluruh tamu undangan termasuk para pengantin diwajibkan memakai
kimono sebagai baju tradisional di pesta ini. Dan pada acara kedua, para tamu
dan kedua pengantin diwajibkan memakai gaun dan kemeja dengan desain ruang
pesta bernuansa ala barat.
Setelah
sampai dihadapan Neji, tibalah saat pengucapan janji suci yang ditunggu-tunggu
para tamu, tapi sangat tidak diharapkan Hinata dan Kurenai.
"Hai,
semua! Kami boleh bergabung?" tanya seorang katak berwarna kuning yang
bernama Gamakichi. Para tamu yang memang jijik pada katak langsung berteriak
histeris.
"KATAK!"
"Dasar
bodoh kau, Gamakichi! Jangan membuat kacau pesta suci ini, dong!" seru
Gamatatsu yang merupakan kakak Gamakichi.
"Tapi,
kita kan disuruh sama kak.."
Bletakkk!
"Jangan
bocorkan kejutannya, bodoh!" seru Gamatatsu, marah.
"Maaf,
kak. Tapi, kalau makan kue boleh, kan?"
"Dasar
tukang makan!"
Gamakichi
langsung menyerbu kue pengantin dan memakannya dengan lahap.
"KYAAAA!"
"Sudah
cukup Gamakichi, Gamatatsu. Kalian boleh pergi."
"Baik,
kak Naruto!"
Pofff!
Gamakichi dan Gamatatsu langsung menghilang bersama kepulan asap.
Dengan
perlahan Naruto berjalan kearah Hiashi yang berwajah sangar. Para Rokie 12 yang
hadir terlihat menahan nafas melihat keberanian Naruto. Sedangkan Iruka sudah
memejamkan mata. Tidak tahu lagi harus melakukan apa.
"Maafkan
saya Hiashi-sama."
PLAKKK!
Hiashi
menampar pipi Naruto dengan keras, membuat Naruto tersungkur jatuh ke bawah.
"DASAR
BOCAH TIDAK TAHU DIRI! KAU BENAR-BENAR TIDAK PUNYA RASA MALU! MENGHANCURKAN
PERNIKAHAN ORANG SEMBARANGAN!"
"Ayah!"
pekik Hinata sambil menahan tangis. Sungguh, Hinata tidak bisa melihat Naruto
terluka seperti itu.
"Aku
hanya ingin melamar Hinata, Hiashi-sama. Hanya itu."
Hiashi
tertawa mengejek sambil menendang Naruto dengan keras.
Buaghh!
"Kau
pikir aku mau memiliki menantu sepertimu? Kau yang bahkan tidak memiliki harta,
kedudukkan dan orang tua. Bagaimana bisa melindungi dan memenuhi kebutuhan
Hinata? Kau itu hanya sampah desa! Tidak pantas berada disini dan melamar
anakku. Apalagi disaat ia akan menikah dengan Neji!"
"Saya
tahu itu semua, saya mengerti." ucap Naruto. Perlahan mengangkat wajahnya
dan membalas tatapan tajam Hiashi. "Saya sangat amat mengerti. Anda dan
beberapa warga lainnya masih belum bisa menerima saya yang seorang Jincuriki
ini. Kalian menganggap saya sampah desa, tak pernah dianggap, dan selalu
diacuhkan. Tidak memiliki orang tua, pembuat onar, bodoh, dan miskin. Tapi
setidaknya saya bukanlah orang sekeji Anda yang menjadikan Hinata sebagai
boneka!"
Buaghhh!
Hiashi kembali menendang Naruto hingga tubuhnya terpental ke dinding.
"N-Naruto-kun!"
jerit Hinata. Dengan cepat Hinata menghampiri Naruto dan membantunya untuk
berdiri. Hinata tidak bisa lagi menahan tangis saat melihat Naruto yang
wajahnya telah dipenuhi luka lebam dimana-mana. Sakit, seperti dirinya yang
merasakan luka lebam itu.
"J-jangan
m-menangis, H-Hinata," ucap Naruto terbata-bata.
Sakura
yang melihat kejadian itu dari bangku para tamu hanya bisa meremas gaun
berwarna soft pink milik-nya. Kejadian ini mengingatkannya saat Naruto dihajar
habis-habisan oleh dua orang utusan Raikage demi melindungi dirinya dan Sasuke.
Dan disaat itu juga, ia tidak bisa melakukan apa-apa. "N-Naruto."
"H-Hiashi-sama,
aku pasti... bisa membahagiakan Hinata..." ucap Naruto sambil bersujud ke
hadapan Hiashi.
"A-ayah,"
panggil Hinata dengan tubuh bergetar. Hinata sama sekali tidak menyangka kalau
Naruto nekat melakukan hal ini. Apalagi demi melamar dirinya.
Neji
yang menonton kejadian tadi sama sekali tidak bergerak maupun berkomentar.
Dengan wajah tanpa ekspresi, Neji menatap Naruto yang sudah babak belur.
Pikirannya membawanya pada ingatan saat ujian Chunin empat tahun yang lalu.
Saat itu Naruto, dengan tekad dan semangatnya menyerukan...
"Aku
pasti akan menjadi Hokage! Dan pada saatnya nanti, aku akan mengubah seluruh
peraturan dalam keluarga Hyuuga! Itulah janjiku!"
Neji
tersenyum tipis. 'Apa kau benar-benar mau menepati janjimu itu, Naruto?'
Hiashi
kembali tertawa mengejek. "Dengan apa kau memenuhi kebutuhan putriku?
Dengan apa? Kau bahkan tidak lebih dari seorang Genin yang belum lulus ujian
Chunin."
BRAKKKK!
Pintu
utama ruang pesta tiba-tiba hancur berserakan. Tsunade dan Kakashi langsung
menerobos masuk dan berdiri didepan Naruto yang terus bersujud.
"Kau
sudah boleh berdiri Naruto," ucap Kakashi.
Dengan
perlahan Naruto mengangkat kepalanya dan menatap punggung Kakashi dan Tsunade.
Para
tamu banyak yang tersentak kaget karena melihat Hokage kelima dan Hokage
ketujuh melindungi Naruto yang telah babak belur.
"Dia
akan memenuhi kebutuhan Hinata dengan harta warisan Hokage keempat," kata
Tsunade dengan tegas.
Hiashi
kembali tertawa mengejek. "Memang ada hubungan apa antara bocah bodoh itu
dengan Hokage keempat, hah?"
Tsunade
tidak tahan lagi untuk segera menghajar Hiashi dengan tangannya.
"Tenanglah,
Tsunade-sama." ucap Kakashi menenangkan. "Naruto itu adalah putra
tunggal Hokage keempat dengan Uzumaki Kushina."
"Mustahil!
Hokage keempat tidak pernah memiliki putra!" protes Hiashi.
"Apa
rambut dan matanya belum menunjukkan kesamaan mereka berdua?" tanya
Tsunade sambil menunjuk Naruto. "Bocah yang kalian anggap sampah desa
itulah pahlawan yang menyelamatkan kalian! Putra Hokage keempat, Namikaze
Naruto!"
Para
tamu terdiam seketika, tidak ada yang berani mengeluarkan suara saat Tsunade
berteriak.
"Selama
ini kami telah berusaha merahasiakan hal penting ini. Dan sekarang sudah
waktunya bagi para penduduk desa untuk mengetahuinya. Narutolah satu-satunya
pewaris harta Namikaze milik Hokage keempat dan pada hari ini juga, saya selaku
Hokage ketujuh bersama Tsunade-sama dan para tetua Konoha lainnya memutuskan
untuk mengangkat Naruto menjadi Hokage Kedelapan!"
Kata-kata
Kakashi barusan langsung disambut dengan teriakan para anggota Rokie 12 dan
tangisan haru Hinata.
"Yeah,
Naruto! Selamat!" seru Lee dengan suara yang luar biasa bersemangat,
diikuti para tamu lainnya yang ikut mengucapkan selamat pada Naruto.
"Aku
sudah terlalu lelah menjadi Hokage, karena itu aku butuh orang lain yang benar-benar
mampu memimpin Konoha, dan orang yang tepat itu hanyalah Naruto," lanjut
Kakashi sambil memakaikan topi Hokage miliknya kepada Naruto.
"Jadi,
kau masih mau menolak lamaran seorang Hokage, Hiashi?" tanya Kakashi.
Hiashi terdiam seketika.
"Terserah
kalian," sahut Hiashi yang langsung pergi meninggalkan ruang pesta.
Dengan
perlahan Neji mendekati Naruto dan memasangkan Hakama miliknya kepada Naruto.
"Kau
pantas memakai ini, Hokage-sama."
Naruto
hanya nyengir lebar. "Terima kasih, Neji."
Akhirnya
pesta dilanjutkan dengan Hinata yang tidak henti-hentinya menangis terharu.
Dalam pikirannya Hinata tidak berhenti mengucap syukur dan menyadarkan diri,
kalau hal ini bukanlah mimpi belaka.
.
.
.
"Cinta
tak harus memiliki, tapi cinta harus bisa dipahami," bisik Naruto dengan
mesra tepat ditelinga Hinata. Membuat wajah Hinata makin merah padam.
"J-jangan
begitu, Naruto-kun! Kita dilihat ayah dan ibu, tuh!"
Naruto
hanya nyengir. Janji yang kemarin ia ucapkan akhirnya bisa ditepati juga. Kini
ia kembali ke makam ayahnya bersama Hinata sebagai suami isteri. Rasa bahagia
yang sedari tadi Naruto tahan akhirnya tidak bisa lagi disembunyikan,
cengirannya makin lama makin lebar. Membuat wajah Naruto berkali-kali lipat
lebih tampan.
"N-Naruto-kun
kenapa?" tanya Hinata, bingung.
"Tidak,
aku hanya..." Naruto mengecup pelan pipi Hinata. "...Bahagia."
Blussh!
Rona
merah makin menjalar diwajah Hinata.
.
.
.
Kita
tidak bisa mengubah takdir dimasa lalu, tapi kita bisa mencoba untuk mengubah
takdir di masa depan. Mimpi Naruto untuk menjadi Hokage akhirnya terwujud, dan
mimpi Hinata untuk dilihat dan diperhatikan Naruto akhirnya tercapai.
Berharap
memang indah, tapi berusaha lebih luar biasa.
"A-aku
menyukaimu, Naruto-kun."
"Hanya
menyukaiku? Jadi, kau tidak mencintaiku?"
"T-tentu
saja aku..."
"Sstt..."
"Ehh?"
"Aku
sudah tahu, kok!"
Cup!
"Jadilah
ibu dari anak-anakku sekarang dan selamanya."
"I-iya,
Naruto-kun."
.
.
.
.
.
The
End...
Seru banget lho fanfic nya
ReplyDeleteRomantic
ARIGATOU...
ReplyDeleteSeruu pada saat tsunade datang rasanya mau nonjok hiashi hii
ReplyDelete