Disclaimer: Naruto
belongs to Masashi Kishimoto-sensei
Warning: AU, OOC, typo,
Naruto’s POV, membosankan, etc.
Chara: Naruto Namikaze
& Hinata Hyuuga
Pair: Naruhina
By: Namikaze Ali.
Summary:
Naruto memutuskan untuk tidak menikah.
Suatu hari, dia bertemu dengan seorang elf. Dapatkah elf tersebut menyadarkan Naruto dari kesalahannya dan dapatkah Naruto menemukan cinta sejatinya? Lalu, siapakah cinta sejati Naruto?
Suatu hari, dia bertemu dengan seorang elf. Dapatkah elf tersebut menyadarkan Naruto dari kesalahannya dan dapatkah Naruto menemukan cinta sejatinya? Lalu, siapakah cinta sejati Naruto?
.
.
.
Aku baru
saja selesai mengenakan pakaian di depan cermin besar yang ada di kamarku. Jas
berwarna hitam dengan kemeja berwarna biru muda. Kulirik jam dinding yang ada
di atas tempat tidurku. Sudah jam setengah delapan. Sepertinya lagi-lagi aku
harus sarapan di kantor. Sebenarnya aku bisa sarapan di rumah tapi itu bisa
membuatku terlambat berangkat ke kantor. Oke, aku memang atasan. Tapi sudah
sepatutnya atasan memberikan contoh yang baik untuk bawahannya bukan?
Kuambil tas
kerjaku dan segera turun ke lantai satu. Kulangkahkan kakiku dengan sedikit
cepat di atas anak tangga. Sebelum menurunkan kakiku di atas anak tangga
terakhir. Aku melihat salah satu pelayan di rumahku datang menghampiriku dengan
langkah yang tergesa-gesa.
“Tuan Muda,
sarapan sudah siap di meja makan,” ujarnya dengan sedikit menunduk.
Kuturunkan
kakiku dari anak tangga terakhir. “Tidak perlu, aku sarapan di kantor saja,”
“Baik, Tuan
Muda,” kulihat dia menunduk kemudian pergi ke arah dapur.
“Nyonya di
mana?” tanyaku sebelum dia benar-benar pergi dari hadapanku.
“Nyonya
Besar masih ada di Perancis, Tuan Muda,”
“Hhh..baiklah,”
kutinggalkan saja pelayanku di sana. Aku semakin membawa langkahku keluar dari mansionku
ini. Sampai di halaman depan, aku segera mencari porche hitamku.
“Perlu saya
antar, Tuan Muda?” tanya lelaki di depanku dengan sedikit menunduk.
“Tidak
perlu, berikan kuncinya!” sahutku dan segera kuambil kunci yang ia berikan
kepadaku. “Kau boleh pergi!” lanjutku. Dan lelaki tersebut pun segera pergi ke
arah garasi. Sepertinya dia akan mencuci mobil yang lain di garasi. Itu memang
sudah menjadi tugasnya di sini.
.
..o0o..
.
Pintu di
hadapanku terbuka secara otomotis, kulangkahkan kakiku ke dalam. Pencahayaan di
dalam bangunan ini segera masuk ke indra penglihatanku.
“Selamat
Pagi, Pak,” kulihat salah satu karyawan di sini memberi salam dengan menunduk.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan sedikit anggukan kepala. Kubenahi
sedikit dasiku dan melanjutkan langkahku ke arah elevator.
Akhirnya aku
sampai di lorong yang ada di lantai tujuh. Kuberjalan dengan tegak dan sedikit
mengangkat daguku, senyum kupasang di wajahku.
“Selamat
Pagi, Pak,” kulihat sekretarisku menyapaku dengan sedikit menunduk.
“Hm,”
balasku, kemudian segera melangkahkan kakiku ke ruanganku.
Baru saja
aku akan membuka pintu di hadapanku. Tiba-tiba sekretarisku mengatakan sesuatu,
“Maaf, Pak. Di dalam ada..ada..” kulihat dia sedikit gugup.
“Ada? Ada
apa?” tanyaku heran. Dan saat itu juga mataku membulat mendengar jawabannya.
Kenapa tiba-tiba ‘dia’ sudah ada di sini? Dia pasti kemari untuk membahas
masalah itu lagi. “Tch!” umpatku sebelum aku melangkahkan kakiku ke dalam ruang
kerjaku.
Segera
kututup pintu di belakangku setelah aku ada di dalam ruanganku. Kulihat rambut
merah panjang ada di depanku. Dia berdiri membelakangiku sambil menghadap ke
arah jendela besar yang ada di sini.
“Ibu kenapa
tiba-tiba ada di sini?” tanyaku dan kulihat dia membalik badannya.
Memperlihatkan matanya yang berwarna violet dan segera memandang ke
arahku dengan tatapan lembutnya.
“Apa seperti
itu caramu menyapa ibumu yang sudah tidak bertemu selama sebulan,”
“Baiklah,
baiklah. Selamat pagi, lama tidak berjumpa, Bu,” ucapku dan segera duduk di
kursiku. Tasku sudah ada di atas meja kerjaku sejak tadi. Ibuku pun segera
mengambil tempat duduk di hadapanku.
“Ada apa Ibu
kemari?” tanyaku sambil menatap wanita di hadapanku ini.
“Hanya ingin
memperlihatkanmu sebuah foto anak teman ibu. Dia sangat cantik. Kalau kau suka,
ibu akan menjodohkanmu dengannya,” ujar wanita di depanku. “Gadis ini bernama
Hyuuga–”
“Sudahlah,
Bu. Percuma. Aku sudah menetapkan keputusanku. Aku tidak akan menikah dan
sebaiknya ibu segera membawa pergi foto gadis itu karena aku tidak akan
mengubah keputusanku ini. Sudah cukup aku berulang kali mengalami hal yang
namanya patah hati dan aku tidak ingin mengalaminya lagi,” ujarku panjang
lebar.
“Tapi,
Naruto. Ibu hanya ingin melihatmu bahagia. Kau tahu, gadis ini juga pernah
mengalami patah hati dan dia juga sama sepertimu. Dia memutuskan untuk tidak
menikah. Karena itu, ibu ingin kau dan dia untuk–”
“Nah, Ibu
mengatakan kalau dia tidak mau menikah. Ya sudah. Untuk apa aku harus
mengenalnya? Dan Ibu juga tahu kalau aku tidak akan mau menikah, untuk apa Ibu
susah payah menyuruhku untuk bertemu dengannya? Itu hanya akan membuang waktu
Ibu saja,” lagi-lagi aku memotong perkataan ibuku.
“Naruto, ibu
hanya ingin kau memikirkan masa depanmu. Umurmu sudah 26 tahun dan seharusnya
kau sudah menikah lalu–”
Perkataan
ibuku lagi-lagi terpotong karena tiba-tiba aku bangun dari posisi dudukku.
“Ibu, aku sudah memikirkan masa depanku. Aku akan mengurus perusahaan milik
ayah ini, Namikaze Corp. Dan aku tidak akan menikah, aku sudah tidak
sanggup lagi untuk merasakan patah hati. Lebih baik aku sendiri saja sampai tua
daripada aku–”
“Ya, sudah,
sudah. Kepala ibu pusing mendengar ocehanmu itu,” kulihat ibu sedikit
memijit-mijit keningnya. “Ibu mau pergi ke makam ayah saja. Semoga saja ayahmu
yang ada di surga dapat mengubah pemikiranmu,”
“Ya, ya,
semoga saja,” ucapku sedikit mengejek perkataan ibuku kemudian aku berjalan ke
depan dan membukakan pintu untuk ibuku tersayang ini.
.
..o0o..
.
Satu hari
sudah berakhir lagi. Kenapa satu hari itu cepat sekali berlalu? Jam dinding di
kamarku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih, sebaiknya aku segera tidur.
Piyama berwarna biru muda sudah menutupi tubuhku sejak tadi. Lampu kamar
kumatikan dan kunyalakan lampu mejaku.
Segera
kurebahkan tubuhku yang lelah ini di atas tempat tidur. Kutarik selimut sampai
perutku dan mulai memejamkan mataku. Semoga mimpi indah menyambutku hari ini.
“Lebih baik
kita putus saja, Naruto,”
“Ke..kenapa?”
“Kau tahu,
kau itu kalau kuperhatikan semakin jelek saja. Karena itu, kita putus saja.
Sudah, mulai sekarang kita putus!”
.
.
“Ada apa?
Kenapa wajahmu murung seperti itu?”
“Tidak.
Hanya saja lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini, Naruto,”
“Ada apa
sebenarnya? Kenapa kau berbicara seperti ini?”
“Orang tuaku
menjodohkanku dengan pria lain. Maaf,”
.
.
“Kemarin aku
melihatmu dengan pria lain. Dia siapa?”
“Oh,
akhirnya kau mengetahuinya juga. Dia itu pacar baruku dan dia jauh lebih kaya
darimu. Sebenarnya aku hanya memanfaatkanmu saja, Naruto. Kau itu bodoh ya,”
“Sekarang,
kau pergi dari hadapanku!”
“Tentu
saja,”
.
.
“Naruto, aku
mau putus,”
“Ada apa
ini? Kita akan segera menikah bulan depan. Kenapa sekarang kau ingin kita
berpisah?”
“Pokoknya
aku mau kita putus. Jangan tanya alasannya. Selamat tinggal,”
Sial,
bagaimana aku bisa tidur kalau kenangan-kenangan buruk itu terus berputar-putar
di kepalaku? Ini pasti karena pembicaraanku dengan ibu di kantor tadi pagi. Apa
yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak ingin kalau insomnia menyerangku
malam ini. Aku sangat membutuhkan istirahat kali ini.
Aku pun
bangun dari posisi tidurku dan duduk bersandar di kepala ranjangku. Kutolehkan
kepalaku ke kiri. Penglihatanku menangkap secangkir air minum di atas meja
sebelah tempat tidurku. Kuambil cangkir itu setelah sebelumnya membuka
penutupnya. Kutegak air di dalamnya secara perlahan. Sensasi air dingin mulai
kurasakan di dalam tenggorokanku. Kuharap ini dapat membuatku sedikit tenang.
“Naruto, aku
mau putus,”
Tch!
Lagi-lagi kalimat itu melintas di kepalaku. Aku sakit setiap mengingatnya.
Semakin kueratkan genggamanku pada cangkir di hadapanku guna melampiaskan
kekesalanku tapi itu tetap tidak mengurangi rasa sesak di hatiku.
PRANG!
Akhirnya
cangkir tersebut berakhir dengan tubuh berkeping-keping di atas lantai karena
aku baru saja melemparnya ke arah dinding kamarku. Aku sudah tidak dapat
menahan kekesalanku. Kata-kata menyakitkan itu terus saja terngiang-ngiang di
kepalaku seperti ada orang yang mengatakannya di depanku. Aku pun menjambak
rambut pirangku guna melampiaskan kekesalanku.
“Sial,”
umpatku.
SRING!
SRING!
Tiba-tiba
saja indra pendengaranku menangkap suara-suara aneh dari arah kiriku. Saat
kutolehkan kepalaku ke kiri, aku sangat terkejut karena dari pecahan cangkir
tadi tiba-tiba saja keluar cahaya kebiruan yang aneh dan cahaya itu
lama-kelamaan semakin terang. Dan selanjutnya tiba-tiba muncul sebuah lubang berwarna
kebiruan di sana. Aku semakin terkejut saat pandanganku menangkap seseorang
muncul dari dalam lubang tersebut. Pertama-tama yang kulihat hanyalah rambutnya
yang berwarna indigo kemudian disusul dengan wajahnya yang bisa dibilang
sangat cantik dan akhirnya terlihatlah orang tersebut sampai kakinya. Kemudian
lubang kebiruan itu pun menghilang.
Aku masih
saja terpaku melihat sesosok makhluk yang tiba-tiba saja ada di sana. Dia
mengenakan gaun berwarna biru muda yang menutupi tubuhnya sampai kaki. Apa dia
manusia? Kalau benar dia manusia, bagaimana mungkin ada manusia yang bisa
muncul seperti itu.
“Hai, apa
kabar?” ucapnya sambil tersenyum manis. Setelah kuperhatikan ternyata dia
sangat cantik dan matanya berwarna ungu pudar. Tapi, tunggu. Dia itu sebenarnya
apa? Mana mungkin ada manusia seperti dia? Dan lagi, apa itu yang ada di
punggungnya? Sepasang sayap? Apa itu sayap? Benar. Itu sayap. Sepasang sayap
transparan yang sangat tipis seperti sayap yang dimiliki capung. Dan lagi, dia
melayang. Kakinya tidak menyentuh lantai sama sekali. Sebenarnya dia apa?
Kulihat ada
tangan yang melambai-lambai di depan wajahku dan itu berhasil membuyarkan
lamunanku dan seketika itu pun aku mulai sadar.
“Ka..kau
siapa?” tanyaku sedikit gemetar dan aku pun memundurkan tubuhku sedikit karena
jarak kami yang sangat dekat.
“Salam kenal
manusia, namaku Hinata dan aku adalah seorang elf. Aku berasal dari fairyland
bagian utara yaitu ice world,” sahutnya sambil tersenyum.
“Kau bilang
apa? Elf? Bukankah elf itu hanya ada dalam dongeng? Apa ini
benar-benar nyata?” ucapku sambil menepuk-nepuk wajahku. Berharap ini hanyalah
sebuah mimpi.
“Hahaha..tentu
saja ini nyata. Wajahmu pasti sakit kau pukul seperti itu,” kulihat dia
tertawa. Dan dia benar, wajahku sakit. Itu berarti ini nyata.
“Jadi, kau
benar-benar elf. Lalu, kenapa kau menemuiku?” tanyaku akhirnya. Aku
memang masih sangat terkejut dengan ini semua tapi aku berusaha menerimanya
saja. Walau akalku masih sulit menerima bahwa sosok yang ada di depanku ini
benar-benar nyata.
“Jadi, aku
kemari karena ingin membantumu untuk menemukan jalan hidupmu yang sebenarnya.
Karena sekarang kau sudah benar-benar berada pada jalan yang salah,” sahutnya
sambil terbang ke kanan dan ke kiri.
“Apa
maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti,”
“Sudahlah.
Sekarang, kau ikut aku saja,” ujarnya dan kemudian dia pun menarik tanganku.
Dan membuatku melayang di udara.
“Eeehh..apa
yang terjadi? Kenapa aku melayang-layang di udara seperti ini?” tanyaku kaget.
“Tenang,
Naruto. Kau akan aman selama kau bersamaku,”
“Darimana
kau tahu namaku?” tanyaku.
“Tentu saja
aku tahu. Itu semua karena aku adalah seorang elf. Hidupku ini penuh
dengan sihir,” sahutnya sambil tersenyum. “Sudah, sekarang kau jangan banyak
tanya. Kita tidak punya banyak waktu. Kau tenang dan diam saja. Lihat, apa yang
akan aku lakukan,” ujar sosok di sampingku ini panjang lebar. “Pintu peri,
terbukalah!” ucapnya dan tiba-tiba saja di depan kami ada sebuah lubang
berwarna kebiruan yang aku lihat tadi. Dan perlahan-lahan dia pun menarikku
masuk ke dalamnya.
Sekarang aku
seperti berada di sebuah terowongan yang semuanya tertutupi dengan warna biru
dan banyak ada hiasan salju di mana-mana. Aku terus saja dibawanya melayang ke
depan. Entah dia akan membawaku ke mana. Aku hanya pasrah saja, berharap ini
hanyalah sebuah mimpi. Semoga saja.
“Kita
sampai,” ucap elf di depanku ini tiba-tiba.
Aku dapat
melihat bahwa sekarang aku berada di sebuah tempat yang sangat gersang, yang
hampir sama dengann gurun pasir. Hanya ada pasir di sana. Dan sekarang aku
sudah tidak melayang lagi. Karena itu aku dapat merasakan betapa kasarnya pasir
di sini. Aku dapat merasakannya karena sejak awal aku memang tidak mengenakan
alas kaki. Pasir di sini berwarna keemasan hanya saja sedikit gelap dan penuh
dengan bebatuan besar di mana-mana. Dan juga, langitnya berwarna kecoklatan
dengan awan yang berwarna merah. Benar-benar tempat yang aneh.
“Kita di
mana?” tanyaku sedikit menengadah pada elf yang ada di sebelahku.
“Kita berada
di dunia roh,” sahutnya sambil terbang ke depan dan aku spontan mengikutinya.
“Dunia roh?
Kenapa kau membawaku kemari?” tanyaku sedikit kesal pada elf ini.
“Bukannya
tadi sudah kubilang aku akan membawamu ke jalan yang benar. Dan ini adalah
satu-satunya tempat di mana aku bisa memberitahumu jalan hidupmu yang
sebenarnya. Intinya kau tenang saja, anggap saja ini sebagai jalan-jalan
gratis,” sahutnya.
“Tadi kau
bilang ini dunia roh, apa sekarang aku ini sudah mati?” aku jadi sedikit takut
dengan kata-kataku barusan. Mati? Yang benar saja.
“Tentu saja
tidak, kau itu masih hidup, Naruto. Kau itu seharusnya bersyukur karena kau
dapat berkunjung ke tempat ini sebelum kau mati,” sahutnya diiringi dengan
tawaan. Apa-apaan dia, tertawa seperti mengejekku saja.
“Oh ya, ada
yang ingin aku tanyakan. Kenapa kau mau membantuku untuk mencari sesuatu yang
kau sebut dengan jalan hidup itu?”
“Ah ya,
benar juga. Seharusnya aku menjelaskan ini padamu. Baiklah, akan aku jelaskan.
Di duniaku tepatnya di fairyland terdapat empat golongan elf
yaitu golongan timur, barat, utara dan selatan. Elf timur adalah elf
yang bertugas untuk melindungi wilayah kami dari musuh semacam setan. Elf
barat bertugas untuk mencatat dan mengawasi setiap tugas elf yang ada di
fairyland. Lalu elf utara sepertiku bertugas untuk melindungi
manusia dan mengarahkan manusia ke jalan hidupnya yang sesungguhnya. Dan
terakhir elf selatan bertugas untuk mengawasi roh di dunia roh.
Merekalah yang akan memberi hukuman pada setiap roh yang melakukan kejahatan
selama mereka berada di dunia manusia,” sahutnya panjang lebar. Kulihat dia
sedikit mengehela nafas. “Baiklah, sekarang kau sudah mengerti?”
“Ya,
sedikit,”
“Baguslah,”
ucapnya dan kami melanjutkan perjalanan kami. Dia tetap melayang sedangkan aku
tetap berjalan di sebelahnya. Lalu pandanganku tiba-tiba menangkap sesosok
makhluk yang terlihat seperti manusia hanya saja tubuhnya sedikit transparan.
“Hei, itu
apa?” tanyaku kemudian sambil menunjuk sosok yang kumaksud itu.
“Nah, itulah
yang namanya roh. Dia akan tetap terlihat seperti manusia karena hukuman yang
dia terima belum selesai. Roh akan menjadi suci setelah dia selesai menerima
hukuman akan dosa-dosa yang ia perbuat selama menjadi manusia,” ujarnya.
“Setelah menjadi suci, roh-roh itu akan dibawa ke fairyland dan menunggu
reinkarnasi berikutnya,”
“Tunggu
dulu, jadi maksudmu ini neraka?”
“Para
manusia menyebutnya neraka tapi kami –para elf– menyebutnya sebagai
dunia roh. Yah, seperti itu,” sahut elf ini sambil mengangkat kedua
bahunya.
Dia nampak
tenang saat mengatakan hal tersebut padahal aku sendiri merasa takut. Bukankah
orang-orang mengatakan neraka itu sangat mengerikan dan sekarang aku sedang
berada di neraka. Tidak dapat kupercaya. Tapi tunggu dulu, ada yang aneh pada
roh yang kulihat itu. Roh itu nampak tidak bisa bergerak atau mereka lumpuh?
Apa itu sebuah hukuman?
“Kau merasa
aneh karena roh yang berada di sini tidak ada yang bergerak kan?” tanyanya
sedangkan aku hanya menganggukan kepalaku. “Roh yang tidak bisa bergerak itu
adalah roh yang mayatnya belum dimakamkan dengan layak. Mereka akan tetap
seperti itu sampai mayat mereka telah dimakamkan oleh keluarga mereka. Dan jika
sudah dimakamkan, roh-roh itu akan dapat bergerak kemudian melanjutkan
perjalanannya,”
“Jadi
seperti itu. Lalu apakah jalan yang kita tempuh ini adalah jalan yang dilalui
oleh para roh itu?”
“Yap. Tepat
sekali,”
Aku pun
terus berjalan ke depan mengikuti elf yang ada di sebelahku ini. Sampai
akhirnya aku sampai di sebuah jembatan. Jembatan itu terbuat dari anyaman tali
yang kelihatannya sangat rapuh. Ditambah lagi, jembatan itu terus
bergoyang-goyang. Di bawah jembatan itu ada sebuah jurang yang di dalamnya
terdapat lahar panas dengan api yang sesekali menyembur ke atas. Ya ampun, hawa
di sini tiba-tiba menjadi panas. Aku jadi semakin takut berada di sini.
Bagaimana cara sampai ke seberang. Kalau aku melewati jembatan ini, pasti aku
akan jatuh. Lihat saja, jembatan itu terus saja bergoyang-goyang padahal tidak
ada angin di sini. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?
Tunggu dulu.
Kenapa aku jadi bodoh begini? Bukankah aku di sini tidak sendiri. Aku di sini
bersama seorang elf berambut indigo yang ada di sebelahku ini.
Kutolehkan kepalaku menghadap ke dia dan yang kulihat adalah dia hanya
tersenyum sambil menatap ke depan. Elf ini sangat gemar tersenyum ya?
“Hei, apa
yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin kalau aku harus menyeberangi
jembatan berbahaya ini?” ucapku.
“Ya, aku
tahu. Sekarang kau pegang tanganku. Kita terbang saja, bagaimana?” sarannya
sambil tersenyum seperti biasa.
Dia pun
menjulurkan tangan kanannya dan aku pun meraih tangan kanannya. Lagi-lagi aku
dibuatnya melayang. Sebenarnya ini sungguh menyenangkan. Melayang di udara
seperti ini. Ini sungguh pengalaman langka, bukan?
“Ayo, kita
berangkat,” ucapnya. Dan sepertinya jembatan ini sangatlah panjang. Sekitar dua
puluh meter sepertinya, terbukti dengan lamanya aku melayang di udara.
Tiba-tiba
pandanganku menangkap roh yang sedang berjalan di atas jembatan itu dan
tiba-tiba saja dia terjatuh. Aku jadi merinding melihatnya. Apa yang akan
terjadi pada roh itu? Pasti akan sangat panas jika jatuh ke dalam jurang yang
isinya lahar panas itu. Aku tolehkan kepalaku ke bawah. Sekarang aku dapat
melihat dengan jelas apa yang ada di dalam jurang itu. Hanya ada lahar panas
dan sesekali menyembur ke atas. Dan di beberapa tempat aku dapat melihat
beberapa roh yang ada di sana. Sayup-sayup aku dapat mendengar rintihan dan
teriakan minta tolong dari roh tersebut. Benar-benar menyayat hati. Di beberapa
bagian jurang, aku juga dapat melihat roh yang sedang berusaha memanjat jurang
tersebut. Tapi, beberapa saat kemudian roh itu terjatuh lagi dan saat menyentuh
lahar panas itu lagi-lagi dia berteriak. Aku benar-benar miris melihatnya.
Akhirnya aku
pun sampai di seberang. Tapi, aku masih tetap melayang di udara. Dan elf
ini semakin membawaku melayang ke atas.
“Coba lihat
ke bawah,” suruhnya. Dan aku pun melihat ke bawah. Aku membulatkan mataku
ketika mataku menangkap suatu hal yang sangat aneh. Aku belum pernah melihat
yang seperti ini sebelumnya.
Di bawah
kami terdapat sebuah daratan –tepatnya hutan– yang dipenuhi dengan pohon-pohon
tinggi berwarna hijau. Tapi pohon itu memiliki daun yang aneh. Daun-daun pohon
itu berbentuk senjata seperti pisau dan buah pohon itu berbentu bola besi yang
penuh dengan duri. Kalau aku lewat di bawah pohon itu bisa saja aku terkena
daun dan buah pohon itu. Pantas saja elf ini tetap membawaku melayang.
Ternyata dia baik juga, kupikir dia ini elf yang menyebalkan.
Sekilas tadi
aku dapat melihat roh yang masuk ke hutan tersebut dan berikutnya aku dapat
mendengar teriakan kesakitannya. Aku yakin daun atau buah pohon itu terjatuh
dan mengenai dirinya. Aku benar-benar tidak dapat membayangkan bagaimana sakitnya.
“Aku
benar-benar tidak tahan berada di sini. Suara teriakan itu membuatku takut,”
ujar elf ini tiba-tiba. Bukankah dia elf? Kenapa dia takut,
seharusnya akulah yang takut selama berada di sini. Sampai sekarang, aku masih
belum tahu sebenarnya apa yang ingin dia beritahu kepadaku. Dia hanya terus
membawaku melayang seperti ini.
“Kalau boleh
aku tahu, apa ada roh yang berhasil melewati hutan di bawah ini tanpa terkena
daun ataupun buah pohon di sana?” tanyaku padanya.
Dia nampak
meletakkan telunjuknya di dagunya dan pandangannya menengadah sedikit ke atas.
Sepertinya sedang berpikir. “Mungkin saja,” sahutnya. “Di hutan ini, roh yang
semasa hidupnya sering berpikiran buruk akan terus dihujani oleh daun dan buah
pohon itu. Benar-benar menyakitkan, kan?” ujarnya.
Jadi
berpikir yang buruk. Aku dulu juga sering berpikiran buruk tentang perempuan.
Apa nanti setelah aku mati, aku juga akan mendapatkan hukuman seperti ini?
Argghh..lebih baik aku jangan memikirkannya sekarang.
“Hah, lambat
sekali. Lebih baik kupercepat saja,” tiba-tiba elf di sebelahku
berbicara sendiri. Dan detik berikutnya aku dapat merasakan dia mempercepat
terbangnya dan tentu saja aku juga ikut terbawa olehnya.
Setelah
melewati hutan tersebut. Sekarang, di bawah kami terdapat sebuah daratan yang
penuh dengan rumput berwarna hijau. Benar-benar menyejukkan mata. Tapi, saat
ada roh yang menginjakkan kakinya di sana, tiba-tiba saja rumput-rumput itu
berubah menjadi duri-duri besi yang sangat tajam. Aku hanya dapat
terkaget-kaget saat hal itu terjadi dan lagi-lagi aku mendengar teriakan
histeris roh di sini. Benar-benar membuat telingaku sakit.
“Roh yang
semasa hidupnya sering berkata dan berbuat buruk akan merasakan rasa sakit yang
sangat besar saat menginjakkan kakinya di duri-duri tersebut,” ujar elf
ini tiba-tiba.
Tadi
pikiran, sekarang perkataan dan perbuatan. Di sini benar-benar tempat hukuman
yang sangat kejam.
Dan
selanjutnya kami melewati padang bunga yang sangat indah dan sangat harum.
Bahkan aku yang jauh melayang di atasnya dapat menghirup aroma harum dari
padang bunga tersebut. Aku yakin, setelah ini pasti padang bunga tersebut
berubah menjadi sesuatu yang mengerikan sama seperti padang rumput sebelumnya.
Tapi, kenapa padang bunga itu belum berubah padahal sudah ada roh yang melewatinya.
“Ini adalah
tempat bagi roh yang sudah berhasil melewati semua hukuman sebelumnya. Di sini
mereka akan disambut oleh padang bunga yang indah dan sangat wangi. Kau dapat
mencium wanginya kan?” aku lihat elf ini menghirup udara di sini dan
menghembuskannya beberapa saat kemudian. “Kita hampir sampai,” ucapnya
kemudian. Sampai di mana? Aku jadi bingung sendiri.
Dia pun
membawaku terbang semakin cepat dan karena itu aku bahkan tidak sempat melihat
tempat apa saja yang kami lewati. Lalu, tiba-tiba dia membawaku turun. Dan aku
merasakan kepalaku sedikit pusing karena dia tadi membawaku terbang sangat
cepat.
“Kita
sampai,”
“Sampai
di..dimana?” tanyaku sedikit gemetar karena kepalaku masih terasa sedikit
pusing.
“Sampai di
sebuah tempat yang akan memberitahumu jalan hidupmu yang sebenarnya,” sahut elf
ini. Dan lagi-lagi aku tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan. Bagaimana
mungkin tempat yang penuh dengan lumpur ini bisa memberitahuku jalan hidupku?
Benar-benar aneh.
Tempat ini
hanya penuh dengan lumpur hitam yang sangat lengket. Kakiku sendiri sudah kotor
karena lumpur tersebut. Selanjutnya, aku pun membawa pandanganku ke segala
arah. Beberapa saat kemudian, aku dapat melihat bahwa di sekitarku terdapat
banyak pohon bambu yang jaraknya saling berjauhan satu sama lainnya. Pohon
bambu itu tidak memiliki daun. Hanya bambu yang menjulang tinggi dan ujungnya
sangat tajam.
Aku terus
saja memperhatikan bambu-bambu tersebut sampai aku melihat ada roh yang
tertancap di salah satu bambu tersebut. Hanya ada satu roh di situ. Tapi, aku
tidak dapat melihat wajah roh tersebut karena ditutupi penutup kepala yang
berwarna hitam.
“Apa dosa
roh tersebut?” tanyaku pada elf yang melayang di belakangku ini.
“Entahlah,
aku juga tidak tahu. Roh di sini biasanya dibawa oleh elf selatan secara
khusus. Sepertinya dosanya pun khusus. Jika kau ingin tahu dosanya, coba saja
tanya pada roh itu,” sarannya.
Sebenarnya
aku tidak terlalu tertarik pada dosa roh tersebut. Hanya saja, kakiku tetap
saja berjalan ke arah roh tersebut berada. Sepertinya ada sesuatu di dalam
hatiku yang menyuruhku agar aku menanyakan apa dosa roh tersebut. Akhirnya, aku
pun sampai di hadapan roh tersebut. Aku melihat roh tersebut sangat kesakitan
karena beberapa kali aku dapat mendengar rintihannya.
“Maaf, kalau
boleh aku tahu sebenarnya dosa apa yang Anda miliki sampai Anda dihukum seperti
ini?” tanyaku sesopan mungkin karena umur roh ini sepertinya lebih tua daripada
aku.
“Aku dihukum
seperti ini karena keturunan dalam keluargaku berhenti,” sahutnya yang
diselingi dengan rintihan kesakitan. Dari suaranya aku tahu kalau dia adalah
seorang laki-laki.
“Maksudmu
dengan berhenti?” tanyaku masih belum mengerti.
“A..aku
memiliki seorang anak dan anakku tersebut tidak mau menikah dan i..itu membuat
keturunan dalam keluargaku berhenti. Karena itulah aku dihukum seperti ini,”
sahutnya lagi masih dengan diselangi suara rintihan.
Jadi yang
membuat dia dihukum seperti ini adalah anaknya. Jadi dia dihukum bukan karena
dosanya sendiri tapi karena kesalahan anaknya. Andai saja aku mengenal anak roh
ini, aku pasti akan menghajarnya karena dia sudah membuat ayahnya dihukum
dengan sangat kejam seperti ini.
“Kalau boleh
aku tahu, nama anak Anda siapa?” tanyaku lagi.
“Namanya
Naruto. Naruto Namikaze,”
DEG!
Saat itu juga
aku merasa seperti terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Ja..jadi anaknya
bernama Naruto Namikaze dan itu adalah aku. Kalau begitu yang di depanku ini
adalah ayahku.
“A..ayah,”
ucapku bergetar dan detik berikutnya tiba-tiba disekelilingku berubah menjadi
gelap. Dan pandanganku pun tiba-tiba menjadi buram dan akhirnya semua menjadi
gelap.
.
..o0o..
.
“AYAH!”
teriakku.
Aku
tersadar, ternyata itu hanyalah mimpi. Terbukti karena sekarang aku berada di
atas tempat tidurku. Nafasku tersenggal-senggal dan keringat membasahi wajahku.
Itu benar-benar mimpi buruk. Tapi, bagaimana kalau itu benar? Ayahku dihukum
seperti itu karena aku. Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?
Tunggu dulu.
Tenangkan dirimu, Naruto. Itu hanyalah mimpi, itu hanya bunga tidur. Anggap
saja itu tidak pernah terjadi. Kutolehkan kepalaku ke kiri. Di atas mejaku
masih tetap ada cangkir berisi air minum dan cangkir itu tidak pecah sama
sekali. Jadi itu benar-benar mimpi kan? Syukurlah.
Tapi, ada
sesuatu di sebelah cangkir tersebut. Sepertinya itu sebuah surat, sebuah surat
yang berwarna biru muda. Dan aku pun segera mengambilnya. Surat itu disegel
oleh sebuah benda yang berbentuk kepingan salju. Aku segera melepas segel
tersebut dan membaca surat tersebut.
Hai, apa
kabar? Bagaimana keadaanmu? Kau tiba-tiba saja pingsan. Itu membuatku sulit
membawamu kembali ke dunia manusia.
Sekarang,
aku ingin menjelaskan sesuatu yang belum sempat aku jelaskan karena kau
pingsan. Sebenarnya inti dari perjalanan ke dunia roh itu adalah agar kau sadar
bahwa kau seharusnya menikah dan itu bisa melepaskan hukuman yang diterima
ayahmu di dunia roh. Jika tidak, ayahmu akan tetap seperti itu dan selamanya
tidak akan pernah menjadi suci.
Oh ya, satu
lagi. Namaku sebenarnya bukanlah Hinata. Namaku adalah Karin dan wajahku pun
bukan seperti yang kau lihat. Aku sebenarnya memiliki rambut yang merah dan
berkacamata. Semalam, aku hanya meniru rupa gadis yang akan menjadi jodohmu.
Gadis itu bernama Hinata. Memiliki rambut panjang berwarna indigo dan mata yang
berwarna abu-abu.
Kau harus
menikah dengan gadis tersebut, jika tidak kau akan membuat ayahmu terus dihukum
seperti itu. Mengerti kan? Aku yakin kau akan suka jika bertemu gadis tersebut.
Gadis itu juga sama sepertimu, dia juga berkeinginan untuk tidak menikah dan
dia juga mengalami hal yang kau alami kemarin. Dia juga pergi ke dunia roh
bersama elf lain. Dan elf yang bersamanya meniru rupamu, Naruto.
Kau juga
tidak perlu khawatir, gadis ini berbeda dengan gadis yang kau jumpai selama
ini. Dia itu adalah gadis yang sangat baik, lemah lembut dan juga keibuan. Dan
dia juga setia. Aku yakin kau tidak akan menyesal jika kau bertemu dengan dia.
Kau harus bisa menemukan gadis itu secepat mungkin. Semakin cepat kau
menemukannya, semakin cepat pula ayahmu akan terbebas dari hukumannya.
Berjuanglah, Naruto!
Tertanda,
Karin
Apa ini?
Jadi itu bukan mimpi. Dan sekarang aku harus menemukan gadis bernama Hinata.
Baiklah, kalau begitu. Semoga saja gadis tersebut benar-benar seperti yang
dikatakan elf ini. Semoga saja dia itu benar-benar jodohku.
SRING!
Tiba-tiba
saja surat tersebut berubah menjadi sebuah kalung perak. Kalung itu memiliki
mata kalung berbentuk kepingan salju. Dan di sana terukir tiga huruf katakana
yang berbunyi ‘Hinata’.
“Gunakan
kalung tersebut. Dengan cara itulah kalian bisa saling mengenal. Selamat
berjuang, Naruto. Temukan cinta sejatimu,” tiba-tiba saja aku mendengar sebuah suara. Dan aku
sangat mengenal suara tersebut. Suara itu milik elf yang semalam
menemuiku.
Aku pun
segera mengenakan kalung tersebut. Senyuman terus terukir di wajahku saat
menatap mata kalung tersebut. Dan aku pun mencium mata kalung tersebut. Semoga
aku bisa cepat menemukanmu, Hinata.
.
..o0o..
.
Kurasakan
sinar matahari masuk ke dalam kamarku dan itu membuatku tersadar dari tidurku.
Aku pun segera bangun dari posisi tidurku. Aku menggosok-gosokkan tanganku ke
mataku dan sesekali menguap. Kemarin, aku baru pulang sekitar jam dua belas
malam. Tentu saja, sekarang aku masih sangat mengantuk.
CKREK!
Tiba-tiba
saja pintu kamar mandi yang ada di kamarku terbuka. Dan yang membukanya adalah
seorang perempuan berambut indigo dengan wajahnya yang sangat cantik.
Dia adalah istriku, Hinata Namikaze. Dia keluar masih dengan mengenakan piyama
mandinya.
“Ah, Naruto
sudah bangun?” ujarnya kemudian. “Kamu pasti sangat lelah. Kamu ingin sarapan
apa?” tanyanya sambil berjalan menuju meja rias.
“Terserah
kamu saja, Hinata. Apapun yang kamu buat, pasti aku makan,” sahutku sambil
berdiri dan dalam sekejap aku segera memeluknya dari belakang sebelum dia duduk
di tempat duduk yang ada di depan meja rias.
“Na..Naruto,”
kulihat dia sedikit terkejut karena gerakanku yang sangat tiba-tiba.
“Diamlah,
Hinata. Apa kamu tahu, aku sangat senang bisa mengenalmu dan sekarang aku bisa
menjadi suami. Aku sangat senang Hinata,” ucapku dan tiba-tiba saja dia memutar
tubuhnya dan balas memelukku.
“Aku juga
senang, Naruto. Aku pikir, aku tidak akan pernah menemui pemuda sebaik dirimu,
Naruto. Sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang elf. Dan dialah yang
menyadarkanku,” ujarnya sambil menenggelamkan wajahnya di dadaku.
“Ya, kamu
benar, Hinata. Seharusnya kita berterima kasih pada elf yang sudah
mempertemukan kita, Hinata,” aku diam sejenak. “Terlepas dari itu semua, aku
sangat mencintaimu, Hinata,” aku pun melepaskan pelukan kami dan aku segera
menatap mata miliknya.
“Aku juga
sangat mencintaimu, Naruto,” balasnya dengan wajah yang merona. Ini sudah
menjadi kebiasaannya, wajahnya pasti akan memerah jika aku pandang sedekat ini.
Aku pun
mendekatkan wajahku berusaha mengeliminasi jarak di antara kami sedikit demi
sedikit. Sampai akhirnya aku merasakan bibirku menyentuh bibir Hinata dengan
sangat lembut. Itu hanya sebuah ciuman lembut di pagi hari. Beberapa saat
kemudian, aku pun melepaskan ciuman tersebut dan aku dapat melihat wajahnya
yang sangat memerah. Dia segera memalingkan wajahnya.
“Na..Naruto,
se..sebaiknya kamu ce..cepat mandi,” ujarnya dengan nada gugup. Dia masih saja
gugup seperti itu padahal kami sudah menikah tiga bulan yang lalu.
Hinata,
bagaimanapun juga aku mencintai dirimu apa adanya. Aku menyukai semua hal yang
ada pada dirimu dan semoga saja ayahku di atas sana sudah terbebas dari
hukumannya dan dapat menjadi roh yang suci.
“Naruto,
cepat mandi,” lamunanku terhenti karena aku mendengar suara Hinata dan sekarang
dia berusaha mendorongku masuk ke kamar mandi.
“Baiklah,
baiklah,” ucapku sambil bergegas masuk ke kamar mandi.
Dan satu
lagi, dileherku ini juga masih melingkar sebuah kalung bertuliskan nama Hinata.
Di leher Hinata juga ada kalung yang sama sepertiku, hanya saja di sana
tertuliskan namaku. Dia mengatakan kalau dia mendapatkan kalung itu dari elf
yang menemuinya dulu.
Kalau
kupikir-pikir, kami berdua dapat bertemu karena elf. Elf yang
biasanya hanya ada di negeri dongeng, sekarang telah menyatukan kami berdua.
Terima
kasih, elf.
.
.
.
The end
By: Namikaze
Ali.
No comments:
Post a Comment