Disclaimer: Naruto dan seluruh
karakternya milik Masashi Kishimoto, saya tidak memperoleh royalti dalam bentuk
apapun dari pembuatan karya ini
Warnings: Alternative Reality,
Hinata's POV
Setting: well, setelah Fourth
Shinobi World War, anggap saja begitu *slapped*
Rated: T saja, mungkin T+ untuk
kissing-nya
Dibuat
dalam rangka memeriahkan NaruHina Tragedy Day
Happy
NHTD 3rd year NHLovers…!
…enjoy…
.
.
.
Kabar itu begitu cepat menyebar.
Layaknya angin musim gugur yang menyenandungkan segenap rasa sendu.
Rasa-rasanya membuat sekujur tubuh ingin berdiam di dalam rumah, bersandar di
sofa hangat di depan perapian, atau memeluk kekasihmu dalam-dalam.
Dingin.
Dingin yang menyeruak sampai ke
kalbu. Entah kabar itu harus ditanggapi dengan tangis haru atau tawa suram.
Entah bahkan dengan ratap pilu atau peluk bangga. Meski seluruh dunia
mengatakan lega setelah semua penderitaan itu telah sirna. Meski mereka semua
turut berduka dan bilang kebebasan itu harus dibayar mahal.
Yang diketahui oleh perempuan itu
hanya satu. Dia, matahari-nya, telah tenggelam. Dan selayaknya bunga matahari,
adakah lagi mereka tegak jika matahari tempatnya senantiasa menatap telah
padam?
.
.
.
Matahariku
By:
Lovely Orihime
.
.
.
Rasa-rasanya aku tak ingin berhenti
bersenandung seharian ini. Dimulai dari tadi pagi ketika aku terbangun dari
tidurku yang tidak nyenyak. Bagaimana bisa nyenyak jika hari ini aku akan
melewatinya bersama dengan orang yang paling kukagumi dan kucintai? Aku bahkan
merasakan pipiku menghangat sejak bangun tidur tadi. Dan Hanabi hanya mampu
menggerutu lalu kembali tidur ketika aku terbangun dan melipat sendiri futon-ku.
Aku padahal sudah berusaha untuk tidak berisik. Tapi mungkin karena aku terlalu
bahagia aku jadi kurang hati-hati dan jatuh menimpanya yang tidur di sebelahku.
Bahkan dia menggumamkan penyesalannya karena meminta tidur di kamarku. Ah
sudahlah. Yang penting Hanabi sudah kembali tidur dan aku bisa melanjutkan
persiapanku.
Setelah mandi dan mengganti pakaian
aku bergegas menuju dapur. Belum ada seorang pun di sana. Tidak masalah juga.
Aku bisa lebih leluasa mempersiapkan makanan untuk piknik nanti siang. Tapi aku
harus menyiapkan apa ya? Tidak sempat kalau harus membuat ramen. Sepertinya onigiri
dan sushi mungkin sudah cukup. Atau menambah sandwich sedikit
kurasa tidak masalah. Lalu beberapa potong semangka dan beberapa buah jeruk
akan kutambahkan juga. Semoga di dapur semua persediaannya ada.
Aku tak henti-hentinya
menyenandungkan lagu-lagu yang bahagia sambil mempersiapkan bentou. Aku
tidak sabar untuk pergi bersama Naruto-kun untuk piknik di pinggir
hutan. Kemarin dia mengajakku untuk piknik dan aku tidak bisa lebih bahagia
daripada ini. Wanita mana yang tidak bahagia jika orang yang dicintainya
mengajaknya piknik kan?
Mungkin jika ada yang melihatku
mereka akan heran karena sedari tadi aku tersenyum sendiri.
Dan selesai!
Aku tersenyum senang melihat bentou
yang sudah jadi di atas meja dapur. Memang hanya berisi lauk sederhana tapi
kuharap Naruto-kun suka buatanku ini. Baiklah. Sekarang saatnya bergegas.
Matahari sudah mulai meninggi.
.
NarutoHinata
.
"Hinata-sama… hendak
kemana?"
Aku sedang melangkah keluar Hyuuga-mansion
ketika seseorang menyapaku. Aku lantas berbalik demi menyahuti suara seseorang
yang sangat kukenali. Aku menoleh dan mendapati Neji-nii berdiri di
sana. Aku lalu tersenyum padanya yang setengah berlari menujuku itu. Pasti dia
baru saja latihan di doujo. Terlihat dari pakaian berlatih yang
dikenakannya. Dan lagi berkas-berkas keringat tercetak di hitaiate-nya
yang sedikit basah di dahinya.
"Aku mau ke tempat
Naruto-kun…," jawabku sambil mengangkat keranjang bekal yang sudah
kusiapkan sejak pagi. "…dan akan piknik bersamanya."
Dia tampak menghela napas,
"Tapi…"
"Tidak apa-apa," potongku
cepat sambil mengibaskan tangan di depan wajah. "Aku bisa sendiri,
Neji-nii. Jangan khawatir, ne. Aku sudah bukan anak-anak lagi."
Lalu aku meyakinkannya dengan senyumanku
sebelum aku kemudian berbalik lagi dan keluar dari Hyuuga-mansion. Aku
hanya tidak mau dia khawatir maka sebaiknya aku cepat-cepat berlalu saja. Aku
kan hanya keluar bersama Naruto-kun jadi kurasa tidak perlu khawatir.
Bahkan Otousama juga tidak melarang. Walaupun beliau memang tidak
mengomentari apapun tapi aku anggap itu bentuk persetujuannya. Lagi pula aku
sudah bukan anak kecil yang harus diawasi kemana pun aku melangkah.
Aku berjalan perlahan sepanjang
jalanan kota yang ramai. Keadaan Konoha memang sudah berubah. Tapi tetap saja
ini masih tanah Konoha dengan segala perubahan yang terjadi. Hokage memutuskan
pembangunan secara menyeluruh persis setelah Perang Dunia Shinobi
berakhir. Banyak kerusakan yang terjadi di seluruh wilayah desa akibat perang
dan juga serangan Akatsuki sebelumnya. Perbaikan di seluruh desa pun sebenarnya
belum sepenuhnya selesai namun kehidupan perekonomian desa sudah berjalan
bahkan sebelum seluruh desa selesai dibangun kembali.
Masyarakat desa dan kehidupan desa
sudah hampir seratus persen membaik. Pertokoan di sepanjang perjalananku menuju
tempat aku berjanji dengan Naruto-kun tampak ramai. Orang-orang
bercakap-cakap. Bahkan dari hitaiate yang dipakai beberapa orang, tampak
mereka yang bukan berasal dari Konoha. Persatuan negara-negara semakin kuat
akibat perang kemarin. Sepertinya semakin menyadari kalau persatuan yang kuat
akan mendukung pertahanan negara-negara shinobi.
Beberapa orang tersenyum padaku
ketika kami berpapasan. Tapi aku tidak sempat bercakap-cakap dengan mereka
karena matahari sudah tinggi dan Naruto-kun pasti sudah menungguku. Maka
aku pun sebaiknya bergegas juga. Kasihan Naruto-kun kalau menunggu
terlalu lama. Aku mempercepat langkahku setelah itu. Sebentar lagi melewati
jembatan Sungai Naka dan berjalan sedikit lagi maka aku sampai di pinggir hutan
tempat aku berjanji dengan Naruto-kun.
"Hinata!"
Aku menoleh ketika ada yang
memanggilku. Aku pun menghentikan langkahku demi menjawab orang tersebut. Aku
mendapati seorang shinobi rekan satu tim denganku di tim delapan sedang
berjalan terburu-buru ke arahku bersama anjingnya yang selalu setia.
"Kiba-kun," ujarku sambil
menyunggingkan senyum padanya. "Dan Akamaru-kun," tambahku sambil
mengacak kepala anjing besar berbulu putih itu.
Aku terkekeh ketika Akamaru menggeram
senang maka aku mengacak lagi helai bulu di kepalanya. Dia tampak semakin besar
saja. Apa hanya perasaanku saja ya?
"Kau tampak terburu-buru. Mau
kemana, Hinata?" tanya Kiba-kun kemudian.
Aku mengangkat wajah untuk
menjawabnya, "Mau ke tempat… Naruto-kun."
"Mau ke tempat Naruto? Kau
membawa apa itu? Bentou?" tanyanya sambil melirik pada keranjang yang
kubawa.
Aku tergeragap. "I-Itu… Kami
ada… janji untuk piknik."
Kulihat dia mengernyitkan alisnya,
"Piknik?"
"Iya," jawabku sekenanya
sambil tersenyum. "Sudah dulu ya, Kiba-kun. Aku takut Naruto-kun sudah
menunggu sejak tadi. Jaa ne."
Aku lantas berjalan melewatinya
menuju pinggir hutan mengabaikan tatapan penuh tanda tanya di wajahnya. Wajar
sih. Siapa yang tidak tahu cintaku pada Naruto-kun yang tidak terbalas
sejak lama. Dan siapa yang tidak tahu kalau Naruto-kun menyukai Sakura
sejak lama. Kini ketika dia membalas perasaanku sepertinya banyak orang yang
tidak percaya akan hal tersebut. Tapi aku tidak mau ambil pusing. Biarlah
orang-orang berpendapat seperti itu. Yang aku tahu adalah bahwa Naruto-kun
juga mencintaiku. Aku hanya tersenyum saja.
"Hei… Hinata"
Sepertinya Kiba-kun berusaha
mencegahku pergi untuk bertanya lebih lanjut. Tapi aku harus berjalan lebih
cepat jika tidak mau membuat Naruto-kun menunggu. Aku hanya menoleh
sambil melambai padanya lalu kemudian berbalik lagi.
Benar kan. Naruto-kun sudah
ada di sana sambil tiduran di rerumputan. Aku yakin kedua pipiku memerah
sekarang. Aku menggigit bibir. Gugup. Kueratkan genggamanku pada pegangan
keranjang bentou. Aku lalu tersenyum.
"Naruto-kun!"
.
NarutoHinata
.
"Hinata ayo cepat!"
Aku hanya tersenyum lucu melihat
Naruto-kun yang bersemangat seperti itu. Dia memang selalu bersemangat.
Dan ketika dia berbalik untuk menggenggam tenganku serta menariknya, aku
terkejut sekali. Bagaimana tidak terkejut? Seorang Naruto-kun, orang
yang kusukai sejak lama, menggenggam tanganku. Kami-sama setelah ini
kalau aku harus mati pun aku rela. Aku sudah memperoleh kebahagiaan yang begitu
besar ketika Naruto-kun membalas perasaanku.
"Haah… Kau ini malah
senyum-senyum sendiri," ujar Naruto-kun lagi ketika dia menoleh
padaku.
Oh, Kami! Wajahnya begitu
dekat. Pasti kedua pipiku sudah memerah. Aku hanya bisa mengeratkan peganganku
pada keranjang bentou saja. Dia mencubit kedua pipiku gemas sementara
aku hanya bisa menunduk malu.
"Dan wajahmu merah
begitu…," tambahnya lagi sambil tertawa.
Aku mengerjap, "Na-Naruto-kun…
kau terlalu dekat."
"Itu belum ada apa-apanya,
Hinata," katanya sambil tersenyum misterius.
Aku tidak mengerti, "Maksud
Naruto-kun ap—pph."
Naruto-kun mengecupku!
Tepat di bibir. Aku tidak tahu
wajahku sudah semerah apa sekarang. Pasti lebih merah dari kepiting rebus. Atau
bahkan sudah semerah tomat matang? Aku tidak berani bergerak. Rasa-rasanya
kakiku kesemutan karena Naruto-kun menciumku begitu lembut—pada awalnya.
Aku tak sadar sejak kapan kedua tangannya sudah menarik tubuhku untuk merapat
memperdalam kecupan itu menjadi ciuman.
Hangat.
Pernahkah kau berdiri di bawah sinar
matahari pagi? Ciuman Naruto-kun hangat seperti matahari pagi. Kedua
tangannya membelai punggungku. Aku hanya bisa berpegangan pada jaketnya saja.
Bahkan entah sejak kapan keranjang bentou yang kupegang sudah tergeletak
di sisi kakiku. Kuharap isinya tidak berantakan. Dan aku menutup kedua mataku
ketika Naruto-kun menjilat bibirku dan mendorong lidahnya memasuki
mulutku.
Rasanya lama sekali sampai Naruto-kun
mengecup bibirku dan menjauhkan bibirnya dari bibirku. Dahinya masih menempel
di dahiku ketika aku berusaha mengatur napas.
"Aku mencintaimu, Hinata,"
bisiknya sambil mengelus pipiku—yang pasti sangat merah.
Aku masih terpejam, "Aku juga
mencintai Naruto-kun, selalu."
Dan aku begitu terkejut ketika
dengan cepat Naruto-kun sudah menjauhkan wajahnya lalu menggenggam
tenganku erat sambil meraih keranjang bentou yang tergeletak di tanah.
Aku hanya bisa memekik pelan ketika dia menarikku berlari melintasi padang
rumput menuju lebih dekat ke pinggir hutan. Sesekali dia berbalik dan tersenyum
lebar padaku.
"Ayo, Hinata! Aku sudah tidak
sabar ingin mencicipi bekal buatanmu!"
Dia berteriak girang seraya
menuntunku untuk duduk di rerumputan. Aku lalu ikut duduk di depannya dan mulai
membuka keranjang tersebut. Dia mengusap-usapkan kedua telapak tangannya
antusias. Aku jadi semakin gugup. Bagaimana kalau dia tidak menyukainya ya?
"Enaaaak!"
Aku terkejut dan serta merta menoleh
pada Naruto-kun yang baru saja menyambar onigiri dan langsung
melahapnya. Aku hanya tersipu dan tersenyum padanya. Ada sebutir nasi di sudut
bibirnya maka aku mengambilnya dari sana.
"Ini pasti pakai bumbu rahasia
kan, Hinata," ujar Naruto-kun yang sudah menghabiskan sebuah dan
bersiap-siap mengambil sebuah lagi.
"Tidak. I-itu seperti… yang
biasa kubuat, Naruto-kun," jawabku.
Tidak ada bumbu rahasia di sana. Aku
hanya membuatnya seperti biasa saja. aku mengingat-ingat apa saja yang
kumasukkan tadi. Sepertinya bumbu dan bahan-bahannya seperti biasa.
"Tapi kenapa enak sekali
ya?" tanyanya lagi.
Aku mengernyit, antara senang dan
bingung, "Apakah… seenak itu?"
"Pasti Hinata menaruh bumbu
cinta ke dalamnya," ujar Naruto-kun lugas. Kemudian dia tertawa
sambil menyentuh daguku dan menatap ke dalam mataku.
Aku terkesiap dan baru menyadari ke
mana arah pembicaraannya. Dan seperti yang sudah-sudah kedua pipiku rasanya
menghangat. Dia memang paling bisa membuatku tersipu.
"Dan kedua pipimu memerah lagi,
Hinata. Aku sukaaa…," lanjutnya lagi sambil mengecup pipiku lembut.
"Naruto-kun…"
Aku ikut tersenyum ketika melihat
senyumannya yang ceria. Bahkan padang rumput biasa ini tampak sangat indah
dibandingkan tadi. Aku lalu menyodorkan sushi dengan sumpit untuk
Naruto-kun. Dia awalnya terkejut namun tidak kentara sebelum melahap
dengan semangat suapanku. Setelahnya Naruto-kun menolak makan sendiri
kecuali kusuapi. Aku kadang tertawa geli ketika dia dengan manja meminta lagi
aku menyuapinya.
"Ah, Hinata sudah memberiku
makanan. Aku belum memberimu apa-apa," ujar Naruto-kun tiba-tiba
ketika kami sedang duduk diam setelah kami selesai makan.
Naruto-kun memelukku dari
belakang dan aku menyandarkan tubuhku pada dadanya yang bidang. Angin yang
semilir menggodaku untuk menutup kedua mataku dan menyamankan diriku di
pelukannya. Rasanya damai sekali kalau bisa seperti ini terus bersama orang
yang paling kucintai.
"Tidak masalah,
Naruto-kun," jawabku sambil menoleh dan menatap kedua bola matanya yang
biru. "Aku senang bisa memasak untuk Naruto-kun. Apalagi tadi semangat
begitu makannya."
Dia tersenyum, "Tapi ini kan
kencan jadi aku harus memberikan sesuatu untukmu, Hinata."
"Memangnya mau memberikan
apa?" tanyaku kemudian.
Naruto-kun lalu melepaskan
pelukannya, "Ah kalau begitu tunggu sebentar ya, Hinata. Aku akan
mencarikan bunga matahari di dalam hutan," ujarnya seraya berdiri.
Aku mengangguk lalu tersenyum sambil
menyaksikan punggungnya yang menjauh masuk ke dalam hutan.
.
NarutoHinata
.
Hanabi tampak berlari ke arahku. Aku
heran kenapa dia tampak tergesa dan cemas begitu. Aku kan hanya pergi sebentar.
Tapi kurasa dia hanya kehilangan aku saja ketika dia bangun dari tidur
nyenyaknya. Dia masih terengah-engah mengatur napas ketika sudah berdiri di
depanku. Aku tersenyum melihatnya yang berekspresi lucu seperti itu. Tapi dari
mana dia tahu kalau aku ada di sini ya?
"Hanabi-chan…"
"Neechan!"
Aku agak terkejut dia meneriaki aku
barusan. Tapi lantas aku tersenyum padanya. Wajar kalau dia marah. Mungkin
karena aku pergi sejak pagi dan tidak memberitahukannya.
"Ada apa, Hanabi-chan? Apa
Otousama mencariku?" tanyaku kemudian padanya.
Hanabi tampak mendesah, "Ayo
pulang, Neechan. Sudah larut senja," ujarnya sambil menarikku untuk
berdiri.
Aku lalu berdiri namun untuk
menahannya yang hendak berbalik sambil menggenggam pergelangan tanganku.
"Aku masih menunggu Naruto-kun.
Sebentar lagi aku akan menyusulmu ya."
Hanabi berbalik dan menatapku tajam,
"Ayo pulang, Neechan!"
"Hanabi-chan…. Kenapa kau
berteriak begitu? Aku kan hanya mau menunggu Naruto-kun. Nanti mungkin dia yang
akan mengantarku sampai—"
"DIA SUDAH MATI!"
Aku menatap Hanabi lama dan dalam.
Dia balik menatapku dengan mata yang mulai memerah. Dan ketika airmata itu
mengaliri pipinya, cepat-cepat dihapusnya seolah tidak ingin terlihat olehku.
Aku tidak tahu apa maksud perkataannya barusan. Dia memang biasa bersikap tegas
tapi tidak pernah sampai membentakku seperti barusan. Aku hanya menunggu apa
yang kemudian akan dikatakannya. Mungkin dia akan berteriak 'kau tertipu!' atau
semacamnya.
"Dia sudah mati, Neechan.
Kenapa kau tidak mau mengerti juga?" ujarnya parau. Seperti sedang
memohon.
Apa katanya?
Naruto-kun tidak mati. Kami kan
sedang berkencan di sini. Dan dia sedang pergi sebentar mengambil bunga di
dalam hutan. Hanabi tidak pandai bercanda. Dan aku tertawa lucu melihatnya yang
sedang menangis itu. Kuakui dia pintar bersandiwara. Dia sangat menghayati
aktingnya sampai-sampai menangis begitu. Tapi aku tidak gampang dibohongi tentu
saja.
"Hanabi-chan… aku tidak
menyangka kau bisa berakting dengan baik seperti ini," ujarku sambil
menahan tawa.
Dan tawaku serta merta berhenti
ketika Hanabi mencengkram kedua lenganku. Cukup keras. Aku meringis.
"Dengarkan aku Neechan! Naruto
sudah mati! Dia sudah mati setahun yang lalu! Dalam Perang Shinobi!"
Aku menatapnya bingung,
"Ha-Hanabi-chan…"
"Ya, Neechan. Dia SUDAH
MATI!" teriaknya lagi padaku.
Kali ini airmata dibiarkannya
menetes di kedua pipinya. Hanabi jarang menangis. Aku mengernyit. Hanabi
tampaknya bersungguh-sungguh. Dan kepalaku terasa amat sakit ketika sekelabat
ingatan menghampiri—
"Aku juga mencintaimu,
Hinata…"
—hingga aku menutup mata erat-erat.
Kepalaku serasa ditusuk jutaan jarum. Nyeri. Nyeri yang sampai ke ulu hati. Kami-sama
sakit apa ini?
"AKKHH!"
Aku memegangi kepalaku yang berdenyut-denyut.
Rasanya kedua bola mataku bisa keluar kalau sakitnya tidak berhenti.
Darah segar mengalir dari mulutnya.
Matanya yang biru sendu menatapku. Aku membaringkannya di pangkuanku. Ku elus
helai rambut pirangnya yang kusam akibat pertarungannya barusan.
"Naruto terluka parah!
Sakura—panggil Sakura!"
"Panggil Hokage saja!"
Teriakan-teriakan di sekitar kami,
kepanikan di sekeliling kami, aku sama sekali tidak mengacuhkannya. Naruto-kun
begitu dekat denganku. Ku genggam tangannya yang gemetar. Aku tidak sanggup.
Mataku mengabur dan aku menangis.
"Aku mencintaimu,
Hinata."
Aku tidak tahu kenapa airmata ini
begitu deras mengaliri kedua pipiku. Dikecupnya jemariku yang menggenggam
jemarinya. Aku bahagia. Sangat. Ketika orang yang kucintai mengucapkan kalau dia
juga mencintaiku. Kami-sama… tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini.
"Naruto-kun… kumohon
bertahanlah…"
"Maafkan aku…"
Dia tersenyum. Tersenyum seindah
matahari, matahari-ku. Dan setelahnya dia menutup kedua kelopak matanya dengan
masih menggenggam jemariku. Bibirnya yang pucat tersenyum damai.
"Naruto-kun…?"
Tidak mungkin. Jangan pergi
Naruto-kun. Aku mendekatkan telingaku ke dada kirinya. Sunyi. Kenapa tangannya
yang menggenggam jemariku juga terasa dingin. Tidak boleh!
"NARUTO-KUN!"
'Dia… Apakah dia sudah…'
"Hinata-sama!"
Lalu gelap. Gelap yang pekat.
"Neechan?"
Rasanya dunia di sekitarku
berputar-putar. Kakiku lemas sekali. Hanabi sepertinya menggenggam lenganku
terlalu erat. Nyeri.
Tidak mungkin.
Naruto-kun… kami masih bersama
seharian ini. Tidak mungkin dia sudah…. Aku menatap Hanabi lagi. Lalu aku
menatap sekelilingku. Aku berada di …. Ini pemakaman Konoha. Napasku memburu.
Aku gemetar. Kutatap lagi Hanabi yang mengatakan sesuatu padaku tapi aku sama
sekali tidak bisa mendengarnya. Kepalaku sakit sekali. Dan sesaat sebelum
pandanganku mulai gelap, Naruto-kun menatapku dari belakang punggung
Hanabi. Tersenyum cerah padaku sambil membawa setangkai bunga matahari. Dia,
Naruto-kun,begitu bersinar seperti matahari. Matahariku.
.
.
.
End
Keren...Walaupun endingnya sad tp bagus bgt^^
ReplyDeletesering-sering kunjung kesini yaaa....
DeleteKeren...Walaupun endingnya sad tp bagus bgt^^
ReplyDelete